widget

Senin, 31 Maret 2014

PENGAMPUNAN

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:14-15)a

Ini adalah ayat Alkitab yang sangat mudah dimengerti oleh setiap orang Kristen. Ayat ini sejernih Kristal: jika anda tidaTy_zb1823k mengampuni, Allah tidak akan mengampuni Anda. Bacalah sekali lagi dan perhatikan syaratnya: Anda mengampuni; Anda diampuni – Anda tidak mengampuni; Anda tidak diampuni. Ini adalah ayat yang serius. Allah menganggap pengampunan sebagai sesuatu yang besar, penting dan utama. Ini merupakan salah satu pilihan terbesar yang dapat mengubah hidup kita selamanya.

Kata pengampunan digunakan sebanyak 143 kali dalam PB. Itu adalah istilah hukum yang berarti “melepaskan seseorang dari suatu kewajiban.” Dalam konteks keuangan, itu adalah gagasan mengenai pembatalan hutang. Firman Tuhan di atas bukan sedang mengatakan bahwa Anda mendapatkan pengampunan dengan mengampuni, namun Yesus sedang mengatakan bahwa orang yang telah menerima pengampunan dari Allah akan sangat mudah menjadi orang yang mengampuni. Yesus sedang menunjukan bahwa ketika Anda melepaskan orang lain melalui pengampunan, Allah dapat membebaskan Anda dari beban dan kungkungan dari sikap tidak mengampuni.

Ketika kasih Allah menembus hati Anda lebih dalam dan lebih sungguh-sungguh, Anda menjadi lebih pemaaf. Anda akan sangat mudah memaafkan orang lain. Orang lain mungkin tidak mengerti mengapa Anda mengampuni atau bagaimana bisa Anda memaafkan, tetapi hal itu seharusnya mendorong beberapa orang bertanya kepada Anda, ‘Apa yang membuat Anda menjadi seorang yang mudah memaafkan?”

Mengampuni adalah sebuah keputusan. Itu adalah tindakan yang dimulai dari kehendak atau kemauan. Itu adalah pilihan, bahkan lebih daripada itu, pengampunan adalah gaya hidup orang percaya.

Ketika Anda membaca kalimat di atas, Anda mungkin sedang berpikir satu dari dua hal: (1) Apa? Baiklah, mengapa tidak?, atau (2) Itu gila. Mengapa? Dia bahkan  tidak dapat melihat saya. Saya benar-benar tidak akan mau melakukannya. Pengampunan bagaikan tangan yang diangkat, Anda memutuskan sesuatu. Hal itu sederhana. Jangan mengagungkannya. Jangan membuat hal itu lebih besar daripada hal yang sebenarnya.

Definisi Pengampunan

    Pengampunan adalah sebuah pilihan yang Anda buat untuk membebaskan seseorang dari penjara yang Anda buat bagi mereka yang menyakiti Anda (James Macdonald, Sepuluh pilihan terpenting bagi Anda).

Sekarang pergilah dengan bebas. Bebas dari apa? Ketika seseorang menyakiti Anda, mereka mengambil sesuatu dari Anda yang bukan milik mereka. Itu menciptakan suatu kewajiban atau hutang, yakni kewajiban emosional.

    Pengampunan adalah sebuah keputusan untuk melepaskan atau membatalkan seseorang dari kewajiban atau hutang yang terjadi ketika orang tersebut melukai Anda (William Hines, meninggalkan masa lalu).

Tidak mengampuni adalah sebuah penyakit kanker di dalam jiwa Anda. Anda membawanya berkeliling bersama Anda selagi ia memakan Anda dari dalam. Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi anda adalah mengampuni. Jika tidak, kepahitan akan memakan Anda sampai habis seperti cuka.

    Pengampunan adalah proses merangkai kembali amarah dan luka batin seseorang di masa lalu, dengan tujuan untuk memulihkan kedamain orang itu pada masa lalu serta menghidupkan kembali tujuan dan pengharapan orang itu untuk masa depan (Dr. Dick Tibbits, forgive to love).

Pengampunan Adalah Sebuah Krisis dan Sebuah Proses

Krisis. Langka pertama adalah dengan melihat sikap tidak mengampuni tersebut sebagai dosa. Anda harus tahu bahwa Allah tidak akan mengampuni Anda jika Anda tidak mengampuni orang lain. Berhentilah berasionalisasi dan berusaha untuk menjelaskannya, membelanya, berpegang terhadapnya, bersukacita akannya. Anda harus mengatakan, “saya tidak menginginkan ini dalam kehidupan saya. Saya harus mengampuni.

Proses. Hal ini berarti  pada esok hari ketika Anda melihat orang yang telah melukai Anda, luka Anda akan  kembali  ke pikiran Anda, – itu pasti. Anda perlu berjanji kepada diri Anda sendiri bahwa Anda tidak mengingatkan hal itu padanya, Anda tidak akan mengingatkan hal itu pada orang lain, dan yang paling jauh, Anda tidak akan mengingatkan hal itu pada diri Anda sendiri. Jangan meninjau ulang hal itu: jangan membuat diri anda kelelahan karena hal itu. Jangan biarkan hal itu berputar-putar di dalam kepala Anda.

Beberapa orang melakukan kesalahan dengan menceritakan kepada orang lain bahwa ia telah mengampuni orang. Ada masalah dengan ketulusannya jika ia menganggap mengampuni orang lain merupakan prestasi atau kehebatannya. Pengampunan harus tulus iklas dan tanpa syarat.

Di dalam krisis Anda memutuskan memaafkan dia; di dalam proses, Anda menjalani kehidupan Anda dengan tidak menarik pembayaran bagi rasa sakit yang diberikannya kepada Anda. Jika anda gagal dalam proses tersebut, Anda harus kembali ke masa krisis dengan memohon pertolongan Tuhan agar memampukan Anda mengampuni orang lain.

Alasan-Alasan yang Salah Mengapa Kita Tidak Mengampuni

    Lukanya terlalu besar.

Tidak bermaksud menganggap remeh rasa sakit dari apa yang telah terjadi, tetapi percayalah, ukuran dari luka tersebut bukanlah alasan untuk menggenggamnya. Semakin besar rasa sakit tersebut , semakin Anda harus menyingkirkannya. Percayalah bersama Tuhan Anda sanggup mengampuninya

    Waktu akan menyembuhkannya.

Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Luka tersebut tidak akan pergi hanya karena Anda membalikan beberapa halaman di kalender. Waktu Tuhan untuk mengampuni menurut Alkitab adalah sekarang. Ampunilah dan jangan mengingat-ingat lagi.

    Menyerahkannya kepada Tuhan.

Ini adalah alasan yang paling tidak masuk di akal yang mungkin cukup sering kita dengar. “Saya tidak bisa mengampuninya sekarang, saya menyerahkannya kepada Tuhan saja, biar Tuhan yang beracara” atau “saya berserah saja pada Tuhan.” Perkataan ini bukan saja sangat tidak sopan, tapi juga bodoh dan jahat. Tuhan tidak mungkin dipermainkan seperti itu. Tuhan bukanlah satpan kita, yang sesuka hati kita memerintahnya. Dia adalah Allah yang kudus, yang tidak pernah mentolerir dosa apapun. Dosa kita adalah tanggung jawab kita. Mengampuni orang yang bersalah kepada Anda merupakan tanggung jawab Anda seratus persen.

    Saya akan mengampuni ketika dia meminta maaf.

Sebenarnya waktu kita tidaklah cukup lama untuk menunggu hari tersebut. Bisa jadi dia tidak akan pernah datang atau ia sudah pergi ke suatu tempat dan tidak pernah  lagi memikirkan Anda.  Karena itu jangan bertahan pada sikap tidak mengampuni. Hal itu akan membahayakan hubungan Anda dengan orang lain yang tidak terlibat dan menimbulkan akar pahit (Ibr.12:15).

     Tidak ada yang lebih pahit daripada kepahitan. Seperti batubara di tangan Anda, semakin erat Anda menggenggamnya, semakin Anda akan terbakar olehnya. Lagi pula, mengampuni asalkan orang tersebut meminta maaf bukanlah ciri orang Kristen sejati.

    Saya tidak dapat mengampuni jika saya tidak dapat melupakan.

Itu adalah Pemahaman terbalik. Dengar, Anda tidak akan melupakan sampai anda mengampuni. Tidak mengampuni adalah pilihan untuk membelai luka tersebut—“Saya tidak akan  melupakannya.”

Memang benar, mengampuni bukan berarti Anda tidak ingat apa-apa lagi, melainkan Anda memilih melupakan dan tidak mencoba mengingat-ingat luka itu. Pengampunan berarti Anda mengizinkan Allah menyembuhkannya, tidak peduli apa pun itu. Bekas luka itu bisa muncul di pikiranmu, tetapi itu tidak menyakitkan lagi.

Anda pasti ingat dengan kisah Yusuf dan semua perlakuan  jahat yang dialaminya. Dalam Kejadian 41:51 memberitahukan kita, “Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali  kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”

    Jika saya mengampuninya, dia akan melakukannya lagi. Seorang harus membuatnya membayar atas luka yang ditimbulkannya.

Tugas kita adalah mengampuni. Biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi hakNya. II Tesalonika 1:6 dan Roma 12:19 memberitahukan kepada kita bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Dan lagi, mengampuni seseorang bukan berarti Anda menempatkan diri dalam suatu posisi untuk dilukai lagi. Jika pengampunan ini untuk yang sekian kali, Anda bisa mengingatkan dia lagi apa yang pernah dia lakukan kepada Anda asalkan itu demi kebaikannya.

     Bagaimana dengan Lukas 17:3? Bukankah kita boleh mengampuni jika ia mau bertobat. Kalau begitu Yesus tidak seharusnya menanggung hukuman dosa dengan mengampuni kita. Sebab sebelum kita bertobat Yesus sudah mengampuni kita (Roma 5:6). Dan sebelum manusia menyesal, Yesus sudah terlebih dahulu berkata kepada Bapa, “Ya Bapa, ampunilah mereka” (Luk.23:34).

     Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk tidak mengampuni. Jika Anda mengaku sudah diselamatkan, tidak mungkin bagi Anda untuk tidak dapat mengampuni orang, kecuali memang Anda tidak sungguh-sungguh bertobat.

Pengampunan Tidak Memiliki Batasan

     Pengampunan tidak mengenal batasan. Entah itu hal-hal kecil atau besar, keluarga anda atau bukan, sekali atau berkali-kali.

     Kita sering mendengar, “Kesabaran ada batasnya.” Demikian juga dengan pengampunan. Apakah itu benar?

Tentu tidak. Itu gagasan yang menyesatkan. Petrus pernah mengajukan pertanyaan tersebut kepada  ketika Yesus mengajarkan pengampunan. “ Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” (Mat.18:21).  Apa jawab Yesus, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (22).

Ada yang bertanya, apakah 77 kali atau 490 kali kita mengampuni? Maksud perkataan Yesus adalah janganlah menghitung.

     Berhentilah menyimpan angka. Teruslah mengampuni. Tidak ada suatu pun  yang dapat terjadi di dalam kehidupan Anda yang tidak dapat ditaklukkan oleh pengampunan. Dan tidak ada sesuatu pun dari masa lalu Anda yang mana Anda tidak dapat terbebas darinya melalui pengampunan.

Mengapa Saya memilih Mengampuni?

     Jawaban yang singkat adalah: karena saya sudah diampuni. Kesadaran dan rasa syukur saya akan pengampunan yang telah saya terima secara langsung berhubungan dengan kerelaan saya untuk mengampuni. Orang yang telah mengalami pengampunan Allah adalah orang-orang pemaaf. Kita tidak mengampuni dengan sempurna, tetapi kita bertumbuh dalam kerelaan dan kemampuan untuk mengampuni.

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesrah dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efs.4:31-32).

Ketika Anda menyadari bahwa Anda memiliki pengampunan yang tak ternilai harganya, yang mana Anda tidak layak mendapatkannya, Anda akan membuat pilihan untuk mengampuni orang lain. Pikirkan itu!

Akibat yang Ditimbuklan Dari Sikap Tidak Mengampuni

Menahan pengampunan adalah sebuah pilihan yang bodoh, tanpa perhitungan, merusak dan menghancurkan.

Pertama, hubungan Anda dengan Tuhan kurang harmonis. Mustahil hubungan seseorang dengan Tuhan akan tetap dan terus baik bila ia tidak mengampuni orang.

Saya (alki) belum lama ini diundang berkhotbah di persekutuan kompleks perumahan. Saya biasanya mengawali khotbah saya dengan menanyakan seperti apa hubungan mereka secara pribadi dengan Tuhan. Dengan gembira mereka menjawab, “puji Tuhan, baik sekali.” Namun, ada kejanggalan sesudah itu, ketika saya membahas mengenai pengampunan, ternyata 90 persen dari mereka memiliki masalah yang sangat serius mengenai pengampunan, bahkan lebih parah lagi beberapa dari mereka bukan saja tidak mengampuni lebih dari itu mereka bahkan membenci dan dendam dengan seseorang yang pernah menyakiti hati mereka.

Banyak orang Kristen berkepribadian ganda menjalani kehidupannya. Mereka merasa baik, nyaman, bahkan terus melayani Tuhan, padahal hubungan mereka dengan Tuhan mengalami persoalan besar. Allah tidak mungkin menerima korban cacat (baca: Mat. 5:23; Mark. 11:25). Tuhan tidak berkenan dengan apapun yang kita lakukan dan berikan kepada-Nya sebelum Anda membereskan dosa tersebut.

Kedua, hubungan Anda dengan orang lain rusak. Dosa itu agresif dan posesif. Dosa menuntut, berkembang seperti kanker. Saya banyak menyaksikan banyak orang Kristen karena tidak cepat membereskan dosa tidak mengampuni ini pada akhirnya menjurus pada dosa-dosa lainnya, yakni menggosip, menjelek-jelekkan orang, dan sudah pasti akan membencinya.

Ketiga, reputasi Anda rusak. Anda akan dikenal orang pemarah, pendendam, dan munafik.

Keempat, hasil-hasil yang hancur. Tidak sedikit orang Kristen karena tidak mengampuni ia akhirnya meninggalkan keanggotaan gereja. Iblis tentu menginginkan lebih dari itu. Tidak cukup orang yang bermasalah yang diincarnya, Iblis kemudian menggunakan orang itu untuk menyeret orang lain dalam masalahnya. Bisa karena Suami tidak mau bertobat dari dosa tidak mengampuni, ia kemudian melibatkan istrinya, anak-anaknya, lalu teman-temannya. Dosa makin besar dan semakin besar.

Banyak sekali kerusakan yang terjadi dalam pernikahan, pekerjaan, bisnis, gereja, pertemanan, dan persaudaraan dikarenakan tidak adanya pengampunan. Sikap tidak mengampuni menciptakan sebuah pusaran di dalam pusat kehidupan yang menarik segala sesuatu ke dalam kehampaanya yang menghancurkan.

Tentukan Pilihan Anda

Allah memiliki rencana selangkah demi selangkah berkaitan dengan pengampunan. Jika Anda sedang bergumul dengan masalah pengampunan, ada langkah yang yang harus Anda lakukan.

    Rendahkan Hatimu. Hakikat dari dosa adalah kesombongan/egoisme. Dosa kesombongan adalah akar dari banyak sekali persoalan yang muncul. Banyak teolog, psikolog, dan konselor berasumsi bahwa ego manusia yang tidak dikendalikan adalah sumber kekacauan baik dalam keluarga maupun dalam gereja. Oleh sebab itu, pinti gerbang menuju suatu kemenangan adalah rendah hati. Orang yang rendah hati tidak mencari pembenaran dan pembelaan. Ia melihat semua yang dimilikinya karena Tuhan dan bantuan orang lain. Rendah hati mengungkapkan dirinya melalui kejujuran, ketulusan dan ketaatan sepenuhnya kepada Tuhan apapun akibatnya. Rendah hati tanpa membantah-bantah, tanpa syarat bersedia mengampuni orang yang bersalah kepadanya.
    Kemudian, taruhlah wajah mereka di hati Anda sekarang. Dan ampunilah mereka. Lepaskanlah beban itu. Dan, bersyukurlah kepada Tuhan.

    Bawa pergumulan itu kepada Tuhan. Angkatlah kepalamu dan hatimu kepada-Nya. Izinkan Tuhan untuk mengingatkan Anda akan nama-nama dan wajah mereka yang akan Anda ampuni, baik di masa lalu ataupun di masa kini. Berhentilah mencari-cari alasan.

    Terakhir, berdoalah bagi orang-orang yang melukai Anda. Awalnya, hal ini mungkin sangat sulit dilakukan, tetapi Anda harus melakukannya. Kemudian, perhatikan apa yang terjadi.

Benarkah Tanda-tanda ini menyertai orang percaya

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Markus 16:14-20

Kelompok pantekosta/kharismatik sering menggunakan Markus 16:17-18 (bagian yang ditebalkan pada kutipan di atas) untuk membenarkan penekanan mereka pada “bahasa roh” (saya sengaja memakai istilah “bahasa roh” untuk mengacu kepada fenomena kharismatik, sedangkan fenomena Alkitabiahnya adalah “bahasa lidah” atau speaking in tongues) dan berbagai KKR penyembuhan yang dilakukan tokoh-tokoh kharismatik. Ketika di sebuah gereja kharismatik, diserukan: “mari berbahasa roh,” dan hampir seluruh jemaat bergemuruh dengan suara-suara aneh, itu adalah penggenapan dari Markus 16:17-18, demikian klaim mereka. Demikian juga dengan berbagai “pendeta” kharismatik yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan mengusir setan, itu juga dikatakan sebagai penggenapan dari ayat-ayat ini. [Sebagian orang akan menghapus perikop ini dari Alkitab, karena menurut mereka ayat 9-20 dari Markus 16 tidak otentik, tetapi itu posisi yang salah. Ayat-ayat ini merupakan bagian dari Firman Tuhan].

Tetapi benarkah ayat-ayat ini adalah untuk SEMUA ORANG PERCAYA pada HARI INI? Sebenarnya, penafsiran kharismatik ini adalah penafsiran yang berbahaya, dan membuka peluang serangan dari pihak orang-orang yang tidak percaya Alkitab. Kata SEMUA bersifat universal dan jika ada satu saja pengecualian, maka kata “semua” menjadi gagal. Coba bandingkan bunyi ayat ini dengan sejarah dalam Alkitab dan realita hari ini:
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku
2. Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka
3. Mereka akan memegang ular
4. Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka
5. Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh

Jika “orang-orang percaya” ditafsir sebagai “semua orang percaya hingga hari ini” (penafsiran kharismatik), maka konsekuensinya adalah:
1. Kita harus membaca, atau mendapatkan kesan, dari Alkitab, bahwa semua orang percaya di Perjanjian Baru, melakukan tanda-tanda ini.
2. Kita harus melihat dan menyaksikan hari ini, orang-orang percaya melakukan tanda-tanda ini.

Poin pertama gagal. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 12:10, 28-29). Tuhan memberikan karunia yang unik kepada masing-masing anggota jemaat. Di abad pertama, ada yang diberi karunia mengajar, ada yang diberi karunia melayani, ada yang diberi karunia berbahasa asing. Yang jelas tidak semua orang percaya memiliki karunia bahasa lidah. Demikian juga tidak semua orang memiliki karunia menyembuhkan (1 Korintus 12:28). Jelas juga bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memegang ular atau minum racun maut. Bahkan, pastinya ada banyak orang percaya yang tidak menunjukkan satu pun dari kelima tanda tersebut.

Bagaimana dengan poin kedua? Apakah orang-orang percaya hari ini, di abad 21 ini, melakukan tanda-tanda ini? Kelompok kharismatik mengklaim demikian, tetapi ternyata klaim mereka bersifat selektif. Biasanya, kaum kharismatik lebih ingin menonjolkan tanda pertama, kedua, dan kelima, yaitu: mengusir setan, bahasa baru, dan penyembuhan. Tidak banyak (walaupun ada) yang mau menyinggung tanda ketiga dan keempat: memegang ular dan minum racun maut. Tetapi sebenarnya, kalau mereka mau konsisten, maka tanda ketiga dan keempat ini juga harus menyertai mereka. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pemegangan ular dalam acara kebaktian, tetapi beberapa tahun terakhir ini malah menjadi berita karena ada beberapa yang mati setelah tergigit ular. Terakhir, Jamie Coots (Februari 2014), seorang pengkhotbah Pantekosta yang bermain ular sebagai bagian dari kebaktiannya, mati setelah digigit salah satu ular yang dia pegang. Hal ini sama sekali tidak memuliakan Tuhan, sebaliknya mempermalukan kekristenan secara keseluruhan, karena orang-orang sekuler menyamakan semua orang Kristen dengan kelompok yang salah menafsir Alkitab itu.

Respons standar dari kaum kharismatik jika diperhadapkan kepada hal ini adalah bahwa orang-orang tersebut mencobai Tuhan. Mereka berkata bahwa janji dalam Markus 16 tidak mengizinkan kita untuk sengaja minum racun, ataupun sengaja bermain ular berbisa. Ya, memang penjelasan ini bisa saja diterima, walaupun teks sendiri tidak memberikan syarat-syarat agar tanda-tanda ini menyertai (juga tidak ada syarat bahwa ini hanya untuk penginjilan). Tetapi kaum kharismatik tetap tidak bisa mengabaikan tanda ketiga dan keempat ini sama sekali. Jika memang semua orang percaya harus memiliki tanda-tanda ini, maka tidak boleh ada orang Kristen yang mati digigit ular secara tidak sengaja (yang bukan mencobai Tuhan), atau yang mati diracun oleh orang lain (bukan yang minum racun sendiri untuk mencobai Tuhan). Jelas bahwa realita tidak mendukung penafsiran ini. Orang-orang Kristen yang digigit ular secara tidak sengaja, ternyata menderita celaka, sama seperti orang non-Kristen. Demikian pula mereka yang terkena racun (apakah racun buatan manusia, ataupun racun alami), menderita sakit sama seperti orang non-percaya. Padahal janji dalam Markus 16 berkata: “tidak akan mendapat celaka,” yang lebih luas dari sekedar mati. Jatuh sakit saja sudah termasuk celaka. Janji ini menggaransi si peminum racun untuk tidak sakit sedikit pun.

Ada juga kalangan kharismatik yang mencoba untuk mengecilkan tanda ketiga dan keempat dengan cara mengatakan bahwa Markus 16:17-18 tidak menjanjikan kelima-limanya tanda tersebut pada semua orang. Mereka berkata bahwa setiap orang percaya hanya perlu satu saja dari kelima tanda ini. Tetapi ini pun tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, ada banyak orang Kristen di dunia ini (mayoritasnya bahkan), yang tidak pernah menyembuhkan orang, berbahasa lidah, mengusir setan, apalagi digigit ular atau minum racun maut. Mungkin ada yang berdalih bahwa banyak orang yang disebut “Kristen” bukanlah orang percaya sejati yang menerima janji Yesus ini. Saya setuju bahwa banyak orang “Kristen” bukanlah Kristen sejati. Tetapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa ada banyak orang Kristen/percaya sejati yang tidak pernah mengalami satupun dari kelima tanda dalam Markus 16 ini. Minimal yang saya tahu persis adalah diri saya sendiri, keluarga saya, dan orang-orang Kristen lain yang saya kenal pribadi. Apakah semua orang Kristen yang saya kenal adalah orang Kristen palsu? Ini sangat tidak masuk akal.

Selain itu, penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 mengacu kepada semua orang percaya, menjadikan tanda-tanda ini sebagai suatu tes keselamatan seseorang. Dengan demikian, jika seseorang memperlihatkan tanda-tanda ini, maka ia adalah orang percaya dan diselamatkan, tetapi jika tidak, maka ia orang yang tidak diselamatkan. Tetapi ini bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lain. Surat 1 Yohanes, misalnya, yang ditulis antara lain untuk memberi keyakinan keselamatan bagi orang-orang percaya, mengatakan bahwa bukti keselamatan kita bukan dari tanda-tanda ajaib, tetapi dari karakter kita (1 Yoh. 2:3, 9; 3:9) dan hubungan kita dengan Tuhan (1 Yoh. 5:13). Tidak pernah dalam Alkitab ada sedikitpun petunjuk bahwa tanda-tanda ajaib bisa menjadi semacam “tes litmus” untuk menguji iman seseorang.

Bukan hanya itu saja, klaim Kharismatik bahwa mereka sedang menggenapi tanda-tanda ini melalui fenomena “bahasa roh” dan berbagai KKR kesembuhan yang terjadi hari ini, ternyata sulit dipertahankan. “Bahasa roh” yang terjadi di kalangan kharismatik bukanlah bahasa, melainkan hanyalah bunyi-bunyi yang tidak beraturan. Fenomena ini juga mudah sekali ditiru, dan sama sekali tidak seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada waktu itu, Rasul-Rasul berbicara bahasa asing yang belum mereka pelajari sebelumnya. Bukan itu yang terjadi hari ini, sehingga klaim kharismatik juga gagal.

Jadi, karena penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 berlaku bagi semua orang percaya ternyata tidak dapat dipertahankan, kita patut bertanya apa pengertian yang sesungguhnya dari perikop ini? Satu-satunya solusi adalah bahwa janji ini bukan ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, melainkan TERBATAS kepada orang percaya tertentu saja. Hal ini ternyata didukung oleh konteks.

Pertama, kita harus melihat, kepada siapakah Yesus sedang berbicara? Ayat 14 memberitahu kita bahwa Yesus sedang berbicara kepada sebelas Rasul (minus Yudas Iskariot yang sudah mati), dan bahwa sebagian mereka tadinya masih belum percaya penuh akan kebangkitan Yesus. Jadi, janji tentang tanda-tanda ini secara spesifik diberikan kepada 11 Rasul itu. Bisa saja ada orang lain yang juga menunjukkan sebagian tanda-tanda ini, tetapi hanya 11 Rasul yang dijamin untuk memilikinya. Ini konsisten sekali dengan catatan sejarah orang Kristen mula-mula yang dikanonkan di dalam Kisah Para Rasul. Berulang kali Lukas mencatat bahwa “tanda-tanda” dilakukan oleh para rasul (Kis. 2:43, 5:12), atau orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan Rasul (Barnabas dan Paulus – Kis. 14:3; Filipus – Kis. 8:13; dan Stefanus – Kis. 6:8).

Kedua, kita menemukan di ayat 20, bahwa tanda-tanda ini diberikan oleh Tuhan untuk meneguhkan dan menyertai FirmanNya. Ini bukan berbicara mengenai penginjilan atau khotbah biasa, karena kalau demikian setiap kali ada orang percaya yang menginjil akan ada tanda. Padahal, ada banyak penginjilan yang tidak disertai tanda-tanda. Firman yang dimaksud di ayat 20 adalah proses pewahyuan, yaitu penulisan Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul dan para penuls PB. Di abad pertama, Tuhan sedang menuliskan FirmanNya untuk menjadi standar kebenaran di segala zaman. Tuhan memakai manusia, terutama Rasul-RasulNya untuk menulis Perjanjian Baru itu. Oleh karena itulah Tuhan memberikan kepada Rasul-Rasul karunia-karunia khusus yang menjadi ciri khas Rasul (2 Korintus 12:12). Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani:
“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” Ibrani 2:3-4

Teks dalam Ibrani memberitahu kita bahwa Allah meneguhkan kesaksian para saksi mata (para Rasul) dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Rasul mendapat karunia ini karena peran mereka yang krusial sebagai saksi mata hidup Yesus, tetapi terutama kebangkitanNya, dan juga pewahyuan yang Tuhan berikan kepada mereka.

Sebagai kesimpulan, janji dalam Markus 16:17-18, di lihat dari konteks perikop yang lebih luas, tidak ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, tetapi terbatas di abad pertama, saat pewahyuan Perjanjian Baru berlangsung, terutama kepada para Rasul. Oleh karena itu, tanda-tanda ini sudah tercatat digenapi oleh Tuhan dalam Kisah Para Rasul.

KASIH SEJATI

Kasih dalam bahasa Yunani memiliki empat kata yang berbeda-beda. Eros adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cinta romantis. Storge adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan sebuah cinta yang kuat yang melindungi dan memberikan rasa aman. Phileo adalah cinta antar keluarga, sahabat dan sesama manusia.Sedangkan kata agape adalah kata yunani yang digunakan khusus menunjuk kepada kasih Tuhan.

Tidak semua manusia memiliki kasih jenis agape.Hanya mereka yang telah lahir baru atau telah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus yang memiliki kasih agape. Sebab kasih agape merupakan buah Roh yang dihasilkan karena hubungan dengan Tuhan Yesus (Gal 5:22)
Dalam Alkitab Tuhan memerintahkan “orang percaya” untuk mengasihi Dia dan sesama manusia.Kasih yang Tuhan maksudkan itu adalah kasih agape. Semua orang boleh saja berbicara kasih, tapi kasih jenis apa yang mereka maksudkan? Kita akan tahu jika orang tersebut telah lahir baru. Seperti apakah kasih agape itu? 1 Korintus 13:4-7, mengungkapkannya dengan jelas arti kasih Tuhan (agape) itu.

1. Kasih Tuhan Itu sabar.
Sabar bisa berarti “tahan menderita.”Dalam bahasa Yunani kata ini berarti “tak mudah terbakar emosi” atau sifat pengekangan diri dalam menghadapi hasutan dan tidak buru-buru membalas.Suatu sifat yang memiliki ciri yang tidak meledak, tidak menyimpan kepahitan dan tidak mengalami sakit hati.

2. Kasih Tuhan Itu murah hati.
Menurut ahli bahasa Yunani, A.T. Robertson, kata Yunani untuk “murah hati” dapat juga berarti “berguna atau baik hati”.Analytical Concordance mendefinisikan kata murah hati sebagai “berguna, bermanfaat”. Dengan kata lain, kasih bertindak dengan cara yang baik, baik hati, berguna, dan bermanfaat.

3. Kasih Tuhan Itu tidak cemburu.
Kasih sejati tidak berkata, “jika aku tidak dapat memiliki apa yang aku inginkan aku pun tidak ingin engkau mendapatkannya.”Sebaliknya, kasih sejati berkata, “Aku turut gembira sekalipun aku tidak meraih prestasi, penghargaan, dan kesenangan hidup yang sedang kamu nikmati.Aku tidak dapat berharap lebih untuk diriku sendiri apabila aku hanya berharap sedikit untukmu.”

4. Kasih Tuhan Itu tidak memegahkan Diri.
Kasih itu tidak memyombongkan prestasinya sendiri.Kasih tidak menonjolkan diri, bahkan tidak menonjolkan diri secara halus (Ams 27:2).Jika kita gagal, kasih tidaklah cemburu; dan jika kita berhasil, kasih tidak menyombongkan diri.

5. Kasih Tuhan itu tidak sombong.
Kata dalam bahasa Yunani yang dipakai Paulus disini memiliki arti “meninggikan diri”.Kata sombong juga adalah memiliki arti memperhatikan diri sendiri, melebih-lebihkan pendapat, dan menganggap diri penting.Namun Alkitab tidak mengajarkan kita untuk melalaikan kebutuhan kita sendiri. Hanya, Alkitab mengajarkan bahwa kapentingan kita sama dengan kepentingan orang lain juga.

6. Kasih Tuhan Itu tidak mencari Keuntungan Diri Sendiri.
Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang lebih berfokus ke luar daripada ke dalam, dan mengenai hati yang memperdulikan kebutuhan dan kepentingan orang lain. Hanya mereka yang telah berada di dalam Kristus yang sanggup melakukannya.

7. Kasih Tuhan Itu tidak pemarah.
Kata ini menggambarkan hati yang tidak mudah terpancing atau tidak mudah tersinggung.Marah karena agenda Tuhan dihalangi adalah marah yang dibenarkan. Akan tetapi jika kita marah karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka kemarahan ini tidak dibenarkan.

8. Kasih Tuhan Itu tidak Menyimpan kesalahan orang lain.
Kata Yunani ini diterjemahkan sebagai “tidak berpikir jahat”. Kata ini mengacu pada perbuatan salah atau penderitaan yang diakibatkan orang lain, dan tidak mengingat kesalahan orang lain dengan maksud untuk balas dendam di kemudian hari.

9. Kasih Tuhan Tidak bersukacita karena ketidakadilan.
Tidak merasa senang dalam segala hal yang dinyatakan oleh Allah, tidak diam-diam merasa puas dengan kesalahan moral orang lain, tidak menyebarkan kesalahan orang lain. Mengungkapkan kesalahan seseorang harus dilakukan demi kebaikannya.Kasih sejati tidak membiarkan ketidakadilan dan dosa berkuasa. Kasih berarti menyadari bahwa dosa yang dilakukan seseorang berbahaya untuk dirinya dan orang lain.

10. Kasih Tuhan bersukacita dalam kebenaran.
Dalam 2 Tes 2:12, orang akan dihukum karena tidak percaya kebenaran. Apa yang kita percayai itulah yang kita lakukan. Tuhan ingin kita mengerti kebenaran dan hidup dalam kebenaran.Sebab kebenaran membuat kita bahagia dan sejahtera.

11. Kasih Tuhan menutupi segala sesuatu.
Dalam Alkitab KJV, frase menutupi segala sesuatu diterjemahkan menjadi “bears all things”. Bear dapat diartikan menahan. Kata yunani menahan berarti atap.Kasih ialah menutupi dan melindungi bagaikan atap menutupi rumah dan melindunginya dari badai (badai kekecewaan, hujan kegagalan, angin waktu dan keadaan).

12. Kasih Tuhan itu percaya segala sesuatu.
Hal ini bukan berarti percaya terhadap semua omongan orang. Percaya segala sesuatu di sini adalah percaya segala sesuatu pada apa yang difirmankan Tuhan mengenai diri-Nya, diri kita dan orang lain.

13. Kasih Tuhan mengharapkan segala sesuatu.
Kalimat ini merupakan kelanjutan dari pernyataan di atas. Jika kita sungguh-sungguh percaya akan firman dan rencana Allah, maka kita juga akan mempunyai alasan untuk mengharapkan segala sesuatu. Kasih sejati memiliki pengharapan, karena Allah dapat melakukan sesuatu dalam kehidupan seseorang.

14. Kasih Tuhan sabar menanggung segala sesuatu.
Kata sabar di ayat 4 ini berfokus pada “lama menderita” karena diperlakukan tidak adil oleh orang lain, tetapi tidak marah. Kasih tidak menyerah dan berhenti.Kasih tidak lari dari kenyataan.Ia bertahan pada titik di mana ia harus menanggung segala sesuatu.