Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu
ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan
kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada
orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia
berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil
kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda
ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir
setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang
baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum
racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan
tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan
Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu
duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke
segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan
tanda-tanda yang menyertainya. Markus 16:14-20
Kelompok pantekosta/kharismatik sering menggunakan Markus 16:17-18
(bagian yang ditebalkan pada kutipan di atas) untuk membenarkan
penekanan mereka pada “bahasa roh” (saya sengaja memakai istilah “bahasa
roh” untuk mengacu kepada fenomena kharismatik, sedangkan fenomena
Alkitabiahnya adalah “bahasa lidah” atau speaking in tongues) dan
berbagai KKR penyembuhan yang dilakukan tokoh-tokoh kharismatik. Ketika
di sebuah gereja kharismatik, diserukan: “mari berbahasa roh,” dan
hampir seluruh jemaat bergemuruh dengan suara-suara aneh, itu adalah
penggenapan dari Markus 16:17-18, demikian klaim mereka. Demikian juga
dengan berbagai “pendeta” kharismatik yang mengaku bisa menyembuhkan
segala penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan mengusir setan,
itu juga dikatakan sebagai penggenapan dari ayat-ayat ini. [Sebagian
orang akan menghapus perikop ini dari Alkitab, karena menurut mereka
ayat 9-20 dari Markus 16 tidak otentik, tetapi itu posisi yang salah.
Ayat-ayat ini merupakan bagian dari Firman Tuhan].
Tetapi benarkah ayat-ayat ini adalah untuk SEMUA ORANG PERCAYA pada
HARI INI?
Sebenarnya, penafsiran kharismatik ini adalah penafsiran yang
berbahaya, dan membuka peluang serangan dari pihak orang-orang yang
tidak percaya Alkitab. Kata SEMUA bersifat universal dan jika ada satu
saja pengecualian, maka kata “semua” menjadi gagal. Coba bandingkan
bunyi ayat ini dengan sejarah dalam Alkitab dan realita hari ini:
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku
2. Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka
3. Mereka akan memegang ular
4. Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka
5. Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh
Jika “orang-orang percaya” ditafsir sebagai “semua orang percaya
hingga hari ini” (penafsiran kharismatik), maka konsekuensinya adalah:
1. Kita harus membaca, atau mendapatkan kesan, dari Alkitab, bahwa semua
orang percaya di Perjanjian Baru, melakukan tanda-tanda ini.
2. Kita harus melihat dan menyaksikan hari ini, orang-orang percaya melakukan tanda-tanda ini.
Poin pertama gagal. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua
orang percaya abad pertama memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus
12:10, 28-29). Tuhan memberikan karunia yang unik kepada masing-masing
anggota jemaat. Di abad pertama, ada yang diberi karunia mengajar, ada
yang diberi karunia melayani, ada yang diberi karunia berbahasa asing.
Yang jelas tidak semua orang percaya memiliki karunia bahasa lidah.
Demikian juga tidak semua orang memiliki karunia menyembuhkan (1
Korintus 12:28). Jelas juga bahwa tidak semua orang percaya abad pertama
memegang ular atau minum racun maut. Bahkan, pastinya ada banyak orang
percaya yang tidak menunjukkan satu pun dari kelima tanda tersebut.
Bagaimana dengan poin kedua? Apakah orang-orang percaya hari ini, di
abad 21 ini, melakukan tanda-tanda ini? Kelompok kharismatik mengklaim
demikian, tetapi ternyata klaim mereka bersifat selektif. Biasanya, kaum
kharismatik lebih ingin menonjolkan tanda pertama, kedua, dan kelima,
yaitu: mengusir setan, bahasa baru, dan penyembuhan. Tidak banyak
(walaupun ada) yang mau menyinggung tanda ketiga dan keempat: memegang
ular dan minum racun maut. Tetapi sebenarnya, kalau mereka mau
konsisten, maka tanda ketiga dan keempat ini juga harus menyertai
mereka. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pemegangan
ular dalam acara kebaktian, tetapi beberapa tahun terakhir ini malah
menjadi berita karena ada beberapa yang mati setelah tergigit ular.
Terakhir, Jamie Coots (Februari 2014), seorang pengkhotbah Pantekosta
yang bermain ular sebagai bagian dari kebaktiannya, mati setelah digigit
salah satu ular yang dia pegang. Hal ini sama sekali tidak memuliakan
Tuhan, sebaliknya mempermalukan kekristenan secara keseluruhan, karena
orang-orang sekuler menyamakan semua orang Kristen dengan kelompok yang
salah menafsir Alkitab itu.
Respons standar dari kaum kharismatik jika diperhadapkan kepada hal
ini adalah bahwa orang-orang tersebut mencobai Tuhan. Mereka berkata
bahwa janji dalam Markus 16 tidak mengizinkan kita untuk sengaja minum
racun, ataupun sengaja bermain ular berbisa. Ya, memang penjelasan ini
bisa saja diterima, walaupun teks sendiri tidak memberikan syarat-syarat
agar tanda-tanda ini menyertai (juga tidak ada syarat bahwa ini hanya
untuk penginjilan). Tetapi kaum kharismatik tetap tidak bisa mengabaikan
tanda ketiga dan keempat ini sama sekali. Jika memang semua orang
percaya harus memiliki tanda-tanda ini, maka tidak boleh ada orang
Kristen yang mati digigit ular secara tidak sengaja (yang bukan mencobai
Tuhan), atau yang mati diracun oleh orang lain (bukan yang minum racun
sendiri untuk mencobai Tuhan). Jelas bahwa realita tidak mendukung
penafsiran ini. Orang-orang Kristen yang digigit ular secara tidak
sengaja, ternyata menderita celaka, sama seperti orang non-Kristen.
Demikian pula mereka yang terkena racun (apakah racun buatan manusia,
ataupun racun alami), menderita sakit sama seperti orang non-percaya.
Padahal janji dalam Markus 16 berkata: “tidak akan mendapat celaka,”
yang lebih luas dari sekedar mati. Jatuh sakit saja sudah termasuk
celaka. Janji ini menggaransi si peminum racun untuk tidak sakit sedikit
pun.
Ada juga kalangan kharismatik yang mencoba untuk mengecilkan tanda
ketiga dan keempat dengan cara mengatakan bahwa Markus 16:17-18 tidak
menjanjikan kelima-limanya tanda tersebut pada semua orang. Mereka
berkata bahwa setiap orang percaya hanya perlu satu saja dari kelima
tanda ini. Tetapi ini pun tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, ada
banyak orang Kristen di dunia ini (mayoritasnya bahkan), yang tidak
pernah menyembuhkan orang, berbahasa lidah, mengusir setan, apalagi
digigit ular atau minum racun maut. Mungkin ada yang berdalih bahwa
banyak orang yang disebut “Kristen” bukanlah orang percaya sejati yang
menerima janji Yesus ini. Saya setuju bahwa banyak orang “Kristen”
bukanlah Kristen sejati. Tetapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa ada
banyak orang Kristen/percaya sejati yang tidak pernah mengalami satupun
dari kelima tanda dalam Markus 16 ini. Minimal yang saya tahu persis
adalah diri saya sendiri, keluarga saya, dan orang-orang Kristen lain
yang saya kenal pribadi. Apakah semua orang Kristen yang saya kenal
adalah orang Kristen palsu? Ini sangat tidak masuk akal.
Selain itu, penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18
mengacu kepada semua orang percaya, menjadikan tanda-tanda ini sebagai
suatu tes keselamatan seseorang. Dengan demikian, jika seseorang
memperlihatkan tanda-tanda ini, maka ia adalah orang percaya dan
diselamatkan, tetapi jika tidak, maka ia orang yang tidak diselamatkan.
Tetapi ini bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lain. Surat 1
Yohanes, misalnya, yang ditulis antara lain untuk memberi keyakinan
keselamatan bagi orang-orang percaya, mengatakan bahwa bukti keselamatan
kita bukan dari tanda-tanda ajaib, tetapi dari karakter kita (1 Yoh.
2:3, 9; 3:9) dan hubungan kita dengan Tuhan (1 Yoh. 5:13). Tidak pernah
dalam Alkitab ada sedikitpun petunjuk bahwa tanda-tanda ajaib bisa
menjadi semacam “tes litmus” untuk menguji iman seseorang.
Bukan hanya itu saja, klaim Kharismatik bahwa mereka sedang
menggenapi tanda-tanda ini melalui fenomena “bahasa roh” dan berbagai
KKR kesembuhan yang terjadi hari ini, ternyata sulit dipertahankan.
“Bahasa roh” yang terjadi di kalangan kharismatik bukanlah bahasa,
melainkan hanyalah bunyi-bunyi yang tidak beraturan. Fenomena ini juga
mudah sekali ditiru, dan sama sekali tidak seperti yang terjadi pada
hari Pentakosta. Pada waktu itu, Rasul-Rasul berbicara bahasa asing yang
belum mereka pelajari sebelumnya. Bukan itu yang terjadi hari ini,
sehingga klaim kharismatik juga gagal.
Jadi, karena penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18
berlaku bagi semua orang percaya ternyata tidak dapat dipertahankan,
kita patut bertanya apa pengertian yang sesungguhnya dari perikop ini?
Satu-satunya solusi adalah bahwa janji ini bukan ditujukan kepada semua
orang percaya di segala zaman, melainkan TERBATAS kepada orang percaya
tertentu saja. Hal ini ternyata didukung oleh konteks.
Pertama, kita harus melihat, kepada siapakah Yesus sedang berbicara?
Ayat 14 memberitahu kita bahwa Yesus sedang berbicara kepada sebelas
Rasul (minus Yudas Iskariot yang sudah mati), dan bahwa sebagian mereka
tadinya masih belum percaya penuh akan kebangkitan Yesus. Jadi, janji
tentang tanda-tanda ini secara spesifik diberikan kepada 11 Rasul itu.
Bisa saja ada orang lain yang juga menunjukkan sebagian tanda-tanda ini,
tetapi hanya 11 Rasul yang dijamin untuk memilikinya. Ini konsisten
sekali dengan catatan sejarah orang Kristen mula-mula yang dikanonkan di
dalam Kisah Para Rasul. Berulang kali Lukas mencatat bahwa
“tanda-tanda” dilakukan oleh para rasul (Kis. 2:43, 5:12), atau
orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan Rasul (Barnabas dan Paulus –
Kis. 14:3; Filipus – Kis. 8:13; dan Stefanus – Kis. 6:8).
Kedua, kita menemukan di ayat 20, bahwa tanda-tanda ini diberikan
oleh Tuhan untuk meneguhkan dan menyertai FirmanNya. Ini bukan berbicara
mengenai penginjilan atau khotbah biasa, karena kalau demikian setiap
kali ada orang percaya yang menginjil akan ada tanda. Padahal, ada
banyak penginjilan yang tidak disertai tanda-tanda. Firman yang dimaksud
di ayat 20 adalah proses pewahyuan, yaitu penulisan Perjanjian Baru
yang dilakukan oleh rasul-rasul dan para penuls PB. Di abad pertama,
Tuhan sedang menuliskan FirmanNya untuk menjadi standar kebenaran di
segala zaman. Tuhan memakai manusia, terutama Rasul-RasulNya untuk
menulis Perjanjian Baru itu. Oleh karena itulah Tuhan memberikan kepada
Rasul-Rasul karunia-karunia khusus yang menjadi ciri khas Rasul (2
Korintus 12:12). Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan oleh penulis
Ibrani:
“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan
keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan
oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat
dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda
dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan
karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” Ibrani 2:3-4
Teks dalam Ibrani memberitahu kita bahwa Allah meneguhkan kesaksian
para saksi mata (para Rasul) dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.
Rasul mendapat karunia ini karena peran mereka yang krusial sebagai
saksi mata hidup Yesus, tetapi terutama kebangkitanNya, dan juga
pewahyuan yang Tuhan berikan kepada mereka.
Sebagai kesimpulan, janji dalam Markus 16:17-18, di lihat dari
konteks perikop yang lebih luas, tidak ditujukan kepada semua orang
percaya di segala zaman, tetapi terbatas di abad pertama, saat pewahyuan
Perjanjian Baru berlangsung, terutama kepada para Rasul. Oleh karena
itu, tanda-tanda ini sudah tercatat digenapi oleh Tuhan dalam Kisah Para
Rasul.
Sumber:Dr Steven Liauw.D.R.E.Th.D