widget

Rabu, 08 Oktober 2014

Simson dan Bait Dagon

Sejak awal abad 19, para skeptis dengan mudah mengabaikan kisah Alkitab tentang Simson sebagai sekedar mitos. Sebagai contoh, pada tahun 1966, John McKenzie menulis, “…nilai sejarah dari kisah-kisah kepahlawanan selalu rendah. Hal ini mudah terlihat dalam diri Simson. Suatu istana atau bait yang dapat menamppung beberapa ribu orang di tingkat atasnya, yang ditopang oleh dua tiang utama yang hanya berjarak dua lengan satu sama lain, tidak pernah eksis” (The World of Judges).
Seperti yang terjadi berulang-ulang kali, para pengritik Alkitab telah dibuktikan salah. Bait di Gaza tidak pernah ditemukan, tetapi bait-bait Filistin yang digali di Tel Qasile (sebelah utara Tel Aviv, 1970an) dan Gat, memiliki tiang-tiang utama yang menopang atap persis seperti yang digambarkan dalam Hakim-Hakim 16. Arkeolog Bryant Wood, Ph. D., menggambarkan penemuan-penemuan ini: “Kedua bait ini memiliki desain unik yang sama – bagian atasnya ditopang oleh dua tiang utama. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu dan berdiri di atas dasar batu. Karena tiang-tiang ini berjarak kira-kira dua meter satu dari yang lainnya, seseorang yang kuat dapat menggeser mereka dari dasar batu mereka dan meruntuhkan seluruh bagian atas bangunan itu.



Catatan [Alkitab] itu adalah catatan seorang saksi mata, dan sekali lagi mendemonstrasikan bahwa sungguh Alkitab adalah buku teks paling akurat sedunia” (“Samson and the Temple of Dagon,” Bible and Spade, 1974, hal. 53-54). Saya dapat berdiri di antara dasar-dasar batu dari tiang-tiang di bait Filistin yang di Tel Qasile, dan saya dapat menyentuh dasar-dasar itu dengan tangan saya. Ini bukan bait tempat Simson mati, tetapi di sini ada bukti nyata bahwa bait-bait Filistin dibangun dengan dua tiang utama menyangga bagian atasnya, dan bahwa seseorang yang bertubuh besar dengan kekuatan supranatural bisa mendorong jatuh tiang-tiang ini seperti yang Alkitab katakan. Simson sudah pasti lebih besar dari saya, dan tiang-tiang di bait Gaza bisa jadi lebih dekat satu sama lain. Dasar batu di bawah tiang-tiang di Gat sepertinya lebih dekat dari pada yang di Tel Qasile, walaupun saya belum melihatnya sendiri.

Sumber : Way of Life

JEHOVAH, Bukan YAHWEH

jehovah Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kitab P.L. orang Kristen itu berasal dari kitab suci orang Yahudi. Pada waktu kejatuhan Yerusalem ke tangan Babilon,kelihatannya kitab-kitab P.L. yang sudah ada pada saat itu diselamatkan oleh nabi Yeremia. Nabi Yeremia yang tahu persis apa yang akan terjadi menyadari bahwa kitab suci lebih berharga dari apa pun. Nebukadnezar yang tahu bahwa Yeremia menubuatkan kejatuhan Yerusalem sangat menghormati Yeremia. Bahkan ia membiarkan Yeremia memilih apakah ia mau tinggal di Yerusalem atau mau ikut ke Babel, dan akhir nya Yeremia memilih tinggal di Yerusalem (Yeremia 39:11-14;40:4-5).

Sekembali dari pembuangan, orang Yahudi mengalami kebangunan rohani. Mereka bukan hanya pergi ke Yerusalem tiga kali setahun, bahkan mendirikan sinagoge di seluruh israel. Keberadaan sinagoge itu bukan hanya untuk kegiatan keagamaan, bahkan bermanfaat sebagai sekolah membaca bagi anak – anak. Keadaan ini menyebabkan dibutuhkan nya kitab P.L. karena itu adalah bahan bacaan satu – satu nya. Keadaan ini juga sekaligus melestarikan kanon kitab P.L. karena jumlahnya menjadi semakin banyak sehingga kalau yang satu rusak, masih ada yang lain. Kini terkumpul sekitar 200,000 (dua ratus ribu) naskah kuno dalam bentuk fragment dalam bahasa Ibrani dan Aramik. Dengan cara demikian Allah memelihara firmanNya, yaitu agar orang-orang di kemudian hari dapat memperbanding-kannya. Ada orang bertanya, “apakah kitab P.L. yang ada di tangan kita masih asli?” Jawabannya, “tentu, karena ada kurang lebih dua ratus ribu fragment yang terkumpul dan dibanding-bandingkan”.
Ketika Alexander Agung mengalahkan dunia pada abad ketiga sebelum kedatangan Kristus, bahasa Yunani menjadi bahasa internasional. Satu abad kemudian, yaitu abad kedua sebelum kedatangan Kristus, generasi muda Yahudi perantauan menjadi lebih fasih berbahasa Yunani sehingga penerjemahan kitab P.L. ke dalam bahasa Yunani dirasakan sangat diperlukan. Kemudian sebuah kitab terjemahan dihasilkan oleh 72 orang penerjemah, dan disebut Septuaginta yang artinya tujuh puluh, yaitu angka genap dari jumlah penerjemahnya.
Akhirnya pada masa kehadiran Tuhan Yesus, kitab P.L. yang beredar ada dua macam, yaitu yang berbahasa Ibrani dan berbahasa Yunani (Septuaginta). Selain terdiri dari dua macam bahasa, juga ada versi yang dipakai di sinagoge dan versi yang dipakai oleh pribadi di rumah. Versi sinagoge disalin ulang dengan sangat teliti. Jika ditemukan empat kesalahan, maka dianggap rusak dan segera dimusnahkan. [Gleason L. Archer, The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible (Grand Rapid: Zondervan Publishing House, 1982) Vol.v, p.684]. Mereka tidak menghendaki kehadiran salinan yang ada kesalahan agar jangan sampai makin hari makin banyak salinan yang salah.
Kemudian pada tahun A.D. 70 terjadi penghancuran kota Yerusalem beserta Bait Allah. Orang Israel terkocar-kacir dan tersebar ke mana-mana. Mereka kehilangan identitas sebagai bangsa. Setelah melalui sebuah periode waktu yang agak panjang sebagian orang Israel menyadari bahwa mereka perlu berbuat sesuatu agar identitas bangsa mereka tidak hilang sama sekali. Mereka menyadari bahwa kitab P.L. adalah tumpuan jati diri orang Yahudi serta merupakan pusat integritas keluarga Yahudi. Jika masih ada kanon kitab P.L. yang terus-menerus dibacakan di sinagoge dan dalam keluarga masing-masing, maka keyahudian mereka pasti tidak akan hilang.


jerusalem-israel

Pada periode A.D.70-900, sekelompok orang Yahudi yang disebut Baly ha-Masoret (master of traditon atau guru adat-istiadat) berusaha me-ngumpulkan salinan-salinan untuk memantapkan eksistensi kitab P.L. Perlu diketahui bahwa yang kemungkinan terbakar adalah yang ada di kota Yerusalem, tetapi masih ada banyak salinan yang tersimpan di sinagoge-sinagoge yang bisa dijadikan patokan. Alasan yang mendorong mereka melakukan pekerjaan itu ialah agar identitas keyahudian anak-cucu mereka tidak pudar. Dengan tersimpan utuhnya kitab PL maka itu bisa menjadi landasan bagi eksistensi keyahudian mereka.
Jadi Baly ha-Masoret itu berusaha mengumpulkan salinan-salinan dan berusaha membubuhkan huruf hidup (vokal) agar generasi yang kurang fasih berbahasa Ibrani bisa belajar membaca. Hasilnya bukan saja iman Yudaisme mereka tetap terpelihara, bahkan bahasa Ibrani tetap lestari sementara bahasa Mesir, Persia dan lain-lain musnah terkikis waktu.

Dalam melaksanakan tugas yang sangat berat itu para Baly ha-masoret dibantu oleh ahli tata bahasa (grammar) yang dalam bahasa Ibrani disebut nag danim. Para Baly ha-Masoret dan nag danim, yaitu orang-orang Yahudi yang masih sangat fasih bahkan ahli dalam bahasa Ibrani itu, menolong memasang huruf hidup dan tanda baca ke dalam teks yang tadinya hanya terdiri dari huruf mati dan tanpa tanda baca. Merekalah yang paling tahu bunyi tiap-tiap kata termasuk huruf hidup yang menyertai YHVH, bukan theolog Jerman yang beratus bahkan beribu tahun kemudian. Hasil karya mereka disebut Masoretic Text (Teks Masoretik), dipakai oleh kaum Yahudi sekarang maupun orang-orang Kristen terutama kelompok Kristen Fundamentalis. Dalam Masoretic Text ini nama Sang Pencipta ditulis ( יְהֹוָה )yang kalau dibaca bunyinya Jehovah/Yehowah (dalam bhs Ibrani J bisa juga dibaca Y dan V bisa dibaca W), bukan Yahweh.

Dari Mana Datangnya Yahweh?

Kemudian sejumlah theolog Jerman mulai memikirkan keaslian ucapan Yehowah. Mereka mengembangkan teori bahwa huruf hidupnya diambil dari kata adonai. Dan juga dikembangkan teori bahwa ada catatan bahasa Yunani tentang nama Allah orang Yahudi itu IAW ΙΑΩ (iao).
Dari iao atau Yao dicocokkan dengan kata halleluyah sehingga theolog Liberal modern sangat yakin bahwa ucapannya menjadi Yahweh. Johann Ludwig Ewald, (16 September 1747) adalah termasuk theolog awal yang mendukung teori tersebut. Heinrick Andreas Christoph Havernick pada tahun 1839 memperkenalkan bacaan Yahweh di dalam berbagai tulisannya. [McClintock, John & Strong, James. Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature. Grand Rapids: Baker Book House, 1981, Vol.iv.pp.809-810]

Kesimpulan Kebenaran

Dengan tidak bermaksud mendukung kelompok Saksi Jehovah, kita setuju bahwa Masoretic Text adalah teks yang benar, yang paling akurat. Para Baly ha-Masoret dan Nag Danim adalah orang-orang yang tahu persis kandungan huruf hidup yang menyertai empat konsonan (JHVH /YHWH) yang dipakai Sang Pencipta sebagai sebutan kemuliaanNya sehingga sebutannya yang benar adalah Yehowah atau Jehovah. Dari kesimpulan theologi mereka yang menyesatkan (Liberal) sulit untuk menerima bahwa asumsi mereka tentang bunyi huruf hidup yang menyertai empat konsonan tersebut bisa benar. Masoretic Text (MT) kitab PL dan Textus Receptus (TR) kitab PB adalah fondasi kekristenan, dan merupakan otoritas tertinggi. Semua Alkitab terjemahan harus disesuaikan pada Teks PL dan PB yang kita yakini adalah firman Allah yang dipelihara olehNya yaitu Masoretic Text (MT) kitab PL dan Textus Receptus (TR) kitab PB.

Sumber : Graphe Ministry

Minggu, 05 Oktober 2014

Tanda-Tanda yang Menyertai

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Markus 16:14-20

Kelompok pantekosta/kharismatik sering menggunakan Markus 16:17-18 (bagian yang ditebalkan pada kutipan di atas) untuk membenarkan penekanan mereka pada “bahasa roh” (saya sengaja memakai istilah “bahasa roh” untuk mengacu kepada fenomena kharismatik, sedangkan fenomena Alkitabiahnya adalah “bahasa lidah” atau speaking in tongues) dan berbagai KKR penyembuhan yang dilakukan tokoh-tokoh kharismatik. Ketika di sebuah gereja kharismatik, diserukan: “mari berbahasa roh,” dan hampir seluruh jemaat bergemuruh dengan suara-suara aneh, itu adalah penggenapan dari Markus 16:17-18, demikian klaim mereka. Demikian juga dengan berbagai “pendeta” kharismatik yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan mengusir setan, itu juga dikatakan sebagai penggenapan dari ayat-ayat ini. [Sebagian orang akan menghapus perikop ini dari Alkitab, karena menurut mereka ayat 9-20 dari Markus 16 tidak otentik, tetapi itu posisi yang salah. Ayat-ayat ini merupakan bagian dari Firman Tuhan].
Tetapi benarkah ayat-ayat ini adalah untuk SEMUA ORANG PERCAYA pada HARI INI?

Sebenarnya, penafsiran kharismatik ini adalah penafsiran yang berbahaya, dan membuka peluang serangan dari pihak orang-orang yang tidak percaya Alkitab. Kata SEMUA bersifat universal dan jika ada satu saja pengecualian, maka kata “semua” menjadi gagal. Coba bandingkan bunyi ayat ini dengan sejarah dalam Alkitab dan realita hari ini:

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku
2. Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka
3. Mereka akan memegang ular
4. Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka
5. Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh


Jika “orang-orang percaya” ditafsir sebagai “semua orang percaya hingga hari ini” (penafsiran kharismatik), maka konsekuensinya adalah:

1. Kita harus membaca, atau mendapatkan kesan, dari Alkitab, bahwa semua orang percaya di Perjanjian Baru, melakukan tanda-tanda ini.

2. Kita harus melihat dan menyaksikan hari ini, orang-orang percaya melakukan tanda-tanda ini.


Poin pertama gagal. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 12:10, 28-29). Tuhan memberikan karunia yang unik kepada masing-masing anggota jemaat. Di abad pertama, ada yang diberi karunia mengajar, ada yang diberi karunia melayani, ada yang diberi karunia berbahasa asing. Yang jelas tidak semua orang percaya memiliki karunia bahasa lidah. Demikian juga tidak semua orang memiliki karunia menyembuhkan (1 Korintus 12:28). Jelas juga bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memegang ular atau minum racun maut. Bahkan, pastinya ada banyak orang percaya yang tidak menunjukkan satu pun dari kelima tanda tersebut.

Bagaimana dengan poin kedua? Apakah orang-orang percaya hari ini, di abad 21 ini, melakukan tanda-tanda ini? Kelompok kharismatik mengklaim demikian, tetapi ternyata klaim mereka bersifat selektif. Biasanya, kaum kharismatik lebih ingin menonjolkan tanda pertama, kedua, dan kelima, yaitu: mengusir setan, bahasa baru, dan penyembuhan. Tidak banyak (walaupun ada) yang mau menyinggung tanda ketiga dan keempat: memegang ular dan minum racun maut. Tetapi sebenarnya, kalau mereka mau konsisten, maka tanda ketiga dan keempat ini juga harus menyertai mereka. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pemegangan ular dalam acara kebaktian, tetapi beberapa tahun terakhir ini malah menjadi berita karena ada beberapa yang mati setelah tergigit ular. Terakhir, Jamie Coots (Februari 2014), seorang pengkhotbah Pantekosta yang bermain ular sebagai bagian dari kebaktiannya, mati setelah digigit salah satu ular yang dia pegang. Hal ini sama sekali tidak memuliakan Tuhan, sebaliknya mempermalukan kekristenan secara keseluruhan, karena orang-orang sekuler menyamakan semua orang Kristen dengan kelompok yang salah menafsir Alkitab itu.

Respons standar dari kaum kharismatik jika diperhadapkan kepada hal ini adalah bahwa orang-orang tersebut mencobai Tuhan. Mereka berkata bahwa janji dalam Markus 16 tidak mengizinkan kita untuk sengaja minum racun, ataupun sengaja bermain ular berbisa. Ya, memang penjelasan ini bisa saja diterima, walaupun teks sendiri tidak memberikan syarat-syarat agar tanda-tanda ini menyertai (juga tidak ada syarat bahwa ini hanya untuk penginjilan). Tetapi kaum kharismatik tetap tidak bisa mengabaikan tanda ketiga dan keempat ini sama sekali. Jika memang semua orang percaya harus memiliki tanda-tanda ini, maka tidak boleh ada orang Kristen yang mati digigit ular secara tidak sengaja (yang bukan mencobai Tuhan), atau yang mati diracun oleh orang lain (bukan yang minum racun sendiri untuk mencobai Tuhan). Jelas bahwa realita tidak mendukung penafsiran ini. Orang-orang Kristen yang digigit ular secara tidak sengaja, ternyata menderita celaka, sama seperti orang non-Kristen. Demikian pula mereka yang terkena racun (apakah racun buatan manusia, ataupun racun alami), menderita sakit sama seperti orang non-percaya. Padahal janji dalam Markus 16 berkata: “tidak akan mendapat celaka,” yang lebih luas dari sekedar mati. Jatuh sakit saja sudah termasuk celaka. Janji ini menggaransi si peminum racun untuk tidak sakit sedikit pun.

Ada juga kalangan kharismatik yang mencoba untuk mengecilkan tanda ketiga dan keempat dengan cara mengatakan bahwa Markus 16:17-18 tidak menjanjikan kelima-limanya tanda tersebut pada semua orang. Mereka berkata bahwa setiap orang percaya hanya perlu satu saja dari kelima tanda ini. Tetapi ini pun tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, ada banyak orang Kristen di dunia ini (mayoritasnya bahkan), yang tidak pernah menyembuhkan orang, berbahasa lidah, mengusir setan, apalagi digigit ular atau minum racun maut. Mungkin ada yang berdalih bahwa banyak orang yang disebut “Kristen” bukanlah orang percaya sejati yang menerima janji Yesus ini. Saya setuju bahwa banyak orang “Kristen” bukanlah Kristen sejati. Tetapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa ada banyak orang Kristen/percaya sejati yang tidak pernah mengalami satupun dari kelima tanda dalam Markus 16 ini. Minimal yang saya tahu persis adalah diri saya sendiri, keluarga saya, dan orang-orang Kristen lain yang saya kenal pribadi. Apakah semua orang Kristen yang saya kenal adalah orang Kristen palsu? Ini sangat tidak masuk akal.

Selain itu, penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 mengacu kepada semua orang percaya, menjadikan tanda-tanda ini sebagai suatu tes keselamatan seseorang. Dengan demikian, jika seseorang memperlihatkan tanda-tanda ini, maka ia adalah orang percaya dan diselamatkan, tetapi jika tidak, maka ia orang yang tidak diselamatkan. Tetapi ini bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lain. Surat 1 Yohanes, misalnya, yang ditulis antara lain untuk memberi keyakinan keselamatan bagi orang-orang percaya, mengatakan bahwa bukti keselamatan kita bukan dari tanda-tanda ajaib, tetapi dari karakter kita (1 Yoh. 2:3, 9; 3:9) dan hubungan kita dengan Tuhan (1 Yoh. 5:13). Tidak pernah dalam Alkitab ada sedikitpun petunjuk bahwa tanda-tanda ajaib bisa menjadi semacam “tes litmus” untuk menguji iman seseorang.

Bukan hanya itu saja, klaim Kharismatik bahwa mereka sedang menggenapi tanda-tanda ini melalui fenomena “bahasa roh” dan berbagai KKR kesembuhan yang terjadi hari ini, ternyata sulit dipertahankan. “Bahasa roh” yang terjadi di kalangan kharismatik bukanlah bahasa, melainkan hanyalah bunyi-bunyi yang tidak beraturan. Fenomena ini juga mudah sekali ditiru, dan sama sekali tidak seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada waktu itu, Rasul-Rasul berbicara bahasa asing yang belum mereka pelajari sebelumnya. Bukan itu yang terjadi hari ini, sehingga klaim kharismatik juga gagal.

Jadi, karena penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 berlaku bagi semua orang percaya ternyata tidak dapat dipertahankan, kita patut bertanya apa pengertian yang sesungguhnya dari perikop ini? Satu-satunya solusi adalah bahwa janji ini bukan ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, melainkan TERBATAS kepada orang percaya tertentu saja. Hal ini ternyata didukung oleh konteks.

Pertama, kita harus melihat, kepada siapakah Yesus sedang berbicara? Ayat 14 memberitahu kita bahwa Yesus sedang berbicara kepada sebelas Rasul (minus Yudas Iskariot yang sudah mati), dan bahwa sebagian mereka tadinya masih belum percaya penuh akan kebangkitan Yesus. Jadi, janji tentang tanda-tanda ini secara spesifik diberikan kepada 11 Rasul itu. Bisa saja ada orang lain yang juga menunjukkan sebagian tanda-tanda ini, tetapi hanya 11 Rasul yang dijamin untuk memilikinya. Ini konsisten sekali dengan catatan sejarah orang Kristen mula-mula yang dikanonkan di dalam Kisah Para Rasul. Berulang kali Lukas mencatat bahwa “tanda-tanda” dilakukan oleh para rasul (Kis. 2:43, 5:12), atau orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan Rasul (Barnabas dan Paulus – Kis. 14:3; Filipus – Kis. 8:13; dan Stefanus – Kis. 6:8).

Kedua, kita menemukan di ayat 20, bahwa tanda-tanda ini diberikan oleh Tuhan untuk meneguhkan dan menyertai FirmanNya. Ini bukan berbicara mengenai penginjilan atau khotbah biasa, karena kalau demikian setiap kali ada orang percaya yang menginjil akan ada tanda. Padahal, ada banyak penginjilan yang tidak disertai tanda-tanda. Firman yang dimaksud di ayat 20 adalah proses pewahyuan, yaitu penulisan Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul dan para penuls PB. Di abad pertama, Tuhan sedang menuliskan FirmanNya untuk menjadi standar kebenaran di segala zaman. Tuhan memakai manusia, terutama Rasul-RasulNya untuk menulis Perjanjian Baru itu. Oleh karena itulah Tuhan memberikan kepada Rasul-Rasul karunia-karunia khusus yang menjadi ciri khas Rasul (2 Korintus 12:12). Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani:

“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” Ibrani 2:3-4


Teks dalam Ibrani memberitahu kita bahwa Allah meneguhkan kesaksian para saksi mata (para Rasul) dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Rasul mendapat karunia ini karena peran mereka yang krusial sebagai saksi mata hidup Yesus, tetapi terutama kebangkitanNya, dan juga pewahyuan yang Tuhan berikan kepada mereka.
Sebagai kesimpulan, janji dalam Markus 16:17-18, di lihat dari konteks perikop yang lebih luas, tidak ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, tetapi terbatas di abad pertama, saat pewahyuan Perjanjian Baru berlangsung, terutama kepada para Rasul. Oleh karena itu, tanda-tanda ini sudah tercatat digenapi oleh Tuhan dalam Kisah Para Rasul.

Sumber:Dr Steven Liauw.D.R.E.Th.D